EFEKTIVITAS PEMILIHAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH
(PJJ) SAAT COVID 19 MEWABAH
(sebuah catatan pengalaman
seorang guru)
Penulis: Dede
Kuswanda, S.Pd.,M.Si.
Guru SMK Negeri 6 Garut
Email: dewawanda0@gmail.com
Sebuah elegi datang tepat bulan
keempat tahun 2020, tragedi dunia yang tak pernah ada dalam bayangan hingga
menghempaskan semua segi-segi peradaban manusia yang tercatat dalam sejarah di
muka bumi ini. Tak terkecuali elemen dasar yang menjadi parameter maju tidaknya
sebuah negara ditentukan oleh elemen ini yaitu pendidikan. Parameter pendidikan
ini dapat mengukur sejauhmana tingkat kualitas sebuah negara. Dengan adanya
ukuran tersebut pendidikan menjadi sector penting selain kesehatan dan ekonomi.
Dalam situasi normal pendidikan mendapat porsi yang
menjadi prioritas utama untuk menjadi program wajib suatu negara yang harus
ditata lebih baik. Peradaban yang semakin maju apalagi saat revolusi industry
4,0 menjadi kental terasa dengan bertransformasi di setiap lini kehidupan
manusia di muka bumi ini. Pola pikir manusia yang dipengaruhi oleh kemajuan
teknologi menjadi tantangan global yang harus diikuti.
Paradigma pragmatis mempengaruhi proses pendidikan
yang diaktualisasikan dalam bentuk kegiatan belajar mengajar baik formal,
informal maupun nonformal. Dalam kondisi normal proses pembelajaran ditekankan
hampir 99% diwajibkan untuk tatap muka di sekolah dengan berbagai strategi yang
didukung dengan sarana prasarana teknologi kekinian. Internet, android menjadi
alat yang sangat mendukung dalam proses pembelajaran tersebut baik guru maupun
siswa harus memiliki kecakapan teknologi.
Proses pembelajaran dalam kondisi normal teknologi
menjadi unsur yang sangat penting dimiliki dan dikuasai, apalagi saat pandemi
covid 19 mengubah kebiasaan manusia di tengah kompetisi global antarnegara
untuk menguasai tatanan hidup dunia ini.
Sangat pentingnya pendidikan yang diejawantahkan dalam
proses kegiatan belajar mengajar tetap tidak bias ditawar lagi meski masa wabah
terus menebar ancaman setiap nafas warga
di setiap penjuru dunia termasuk Indonesia sebuah negara berkembang yang
mendapat imbas berat terhadap berbagai sector vital termasuk dunia pendidikan.
Strategi belajar mengajar pun beralih dari proses
pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran dalam jaringan atau daring.
Tuntutan proses belajar mengajar melalui daring merupakan pengalaman baru yang dialami
oleh sebagian besar guru maupun siswa dan program daring inilah menjadi pilihan
yang tepat di masa wabah covid 19 masih menebar ancaman bila himbauan social distance dan fisical distance dilanggar oleh stackholder
pendidikan.
Berbagai pengalaman pun saat proses belajar mengajar
lewat daring penulis lakukan agar proses belajar mengajar bisa dilaksanakan
meskipun dalam target kurikulum yang tidak maksimal.
Penulis merupakan seorang guru bahasa Indonesia di SMK
Negeri 6 Garut yang kebetulan mengajar di kelas XII. Di masa covid 19 ini ada
beberapa tahapan yang ditempuh yaitu pertama, penulis melakukan survey kesiapan
sarana prasarana antara lain ketersediaan android dan kuota yang dimiliki
siswa. Survey tersebut antara lain berupa kuesioner terhadap siswa dengan
pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa kelas XII berisi pilihan A. memiliki
kuota Internet, B. memiliki kuota Chat. Survey ini pernah dilakukan pada hari
Sabtu dan Minggu tanggal 25-26 Juli 2020
pukul 07.00-16.00. Tujuan survey ini yaitu untuk menentukan strategi dan media yang tepat untuk proses pembelajaran
jarak jauh (PJJ) saat pandemic covid 19 masih menjadi ancaman
Survey hari sabtu tanggal 25 Juli 2020 tentang
kesiapan kuota dalam persiapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) memiliki kesimpulan
yaitu Responden (Siswa Kelas XII) sebanyak 456 responden antara lain siswa yang
memiliki kesiapan kuota internet sebanyak 223 siswa atau 48,90%, sedangkan
siswa yang memiliki kesiapan dengan kuota chat sebanyak 233 siswa atau 51,10%.
Survei hari Minggu tanggal 26 Juli 2020 tentang media
yang efektif dan diminati oleh siswa dalam proses pembelajaran jarak jauh (PJJ)
dengan opsi pertanyaan pilihan A. media Google Class, B. WashApp (WA) , hasil
yang didapat dari survey tersebut yaitu jumlah responden 347 siswa antara lain
yang menjawab Media yang efektif dan diminati
siswa yaitu GC sebanyak 50 siswa atau 14,41% dan media WashApp (WA)
sebanyak 297 siswa atau 85,59%.
. Dari hasil survey tersebut dapat ditarik kesimpulan
tahap persiapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) siswa yang menjadi subjek belajar
memiliki kesiapan yang belum maksimal terkait situasi dan kondisi perekonomian
orang tua siswa yang relative rendah menjadi batu sandungan dalam pelaksanaan
pembelajaran jarak jauh tersebut dilihat dari kesiapan ketersediaan kuota yang
sebagian besar memiliki kuota Chat. Artinya bila menggunakan strategi media
yang memerlukan kuota internet siswa akan mengalami kesulitan dalam mengakses
materi pelajaran maupun umpan balik jawaban siswa.
Tindak lanjut survey pertama bisa kita lihat pada
survey kedua yaitu efektifitas media dan
peminatan siswa dalam proses belajar jarak jauh yang hampir sebagian besar
siswa memilih media WashApp (WA) menjadi pilihan karena keterbatasan kuota,
yang pada umumnya mereka memiliki kuota Chat.
Dari hasil survey ini penulis menerapkan dua media
yang digunakan dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) yaitu menggunakan media Google Class, dan WashApp. Media GC
diberikan kepada siswa yang memiliki kuota Internet sedangkan media WashApp bagi siswa yang hanya memiliki
kuota chat.
Seyogyanya dalam konteks pembelajaran akan berhasil
bila tahapan-tahapan proses pembelajaran ditempuh dari mulai perencanaan,
pelaksanaan hingga evaluasi. Tahap awal
yaitu perencanaan. Alasan pentingnya menyusun perencanaan pembelajaran antara
lain: 1) merencanakan pembelajaran akan membantu memanfaatkan atau menentukan
penggunaan sumber materi pembelajaran dan waktu pembelajaran di kelas secara
efisien; 2) mengingatkan guru agar memasukkan seluruh factor pembelajaran yang
baik; 3) pada saat menyusun perencanaan pembelajaran guru dapat
memvisualisasikan dirinya sedang mengajar di kelas sehingga membantu guru
mengantisifasi kemungkinan munculnya masalah dan memikirkan pemecahannya serta
mengatasi kendala atau menghindarkan hal-hal yang menghambat pembelajaran; 4)
membantu menciptakan guru yang cermat dan teliti yaitu menganalisis bagaimana
sesuatu semestinya direncanakan dan diimplementasikan; 5) berguna sebagai
sumber belajar saat akan mengajar pada waktu yang akan dating. ( Lukmanul
Hakim, 2009: 238). Adapun manfaat perencanaan yaitu: 1) untuk memperjelas
pemikiran; 2) melaksanakan urutan-urutan yang tercantum dalam perencanaan
pembelajaran secara sistematis; 3) membantu guru jika lupa; 4) mempunyai
kesempatan memperbaiki perencanaan. (Lukmanul Hakim, 2009:238).
Dalam perencanaan hal yang perlu dilakukan oleh guru
yaitu menetapkan media pembelajaran yang tepat. Media Pembelajaran adalah
teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.
(Schramm, 1977 dalam Rudi dan Cepi (2008:6). Sedangkan menurut Briggs (1977
dalam Rudi dan Cepi,(2008:6) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk
menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide dan
sebagainya.
Media pembelajaran memiliki manfaat sebagai berikut:
1) penyeragaman penyampaian; 2) proses belajar mengajar menjadi lebih menarik,
jelas dan interaktif; 3) efisiensi waktu dan tenaga; 4) meningkatkan kualitas
hasil belajar siswa; 5) memungkinkan kegiatan mengajar yang fleksibel; 6) menumbuhkan
sikap positif siswa. (Kemp & Dayton, 1985).
Kemp & Dayton (1985) menyebutkan bahwa manfaat
media pembelajaran bagi guru yaitu: 1) memudagkan guru dalam menjelaskan materi
rumit; 2) metode pembelajaran yang digunakan bisa lebih bervariasi; 3)
efisiensi dalam penggunaan waktu dan tenaga; 4) membuat siswa menjadi lebih
aktif dan tidak mudah bosan; 5)
tercapainya tujuan kegiatan belajar mengajar secara efektif. Sedangkan manfaat
media pembelajaran bagi siswa antara lain: 1) bisa lebih memahami materi yang
disampaikan pengajar; 2) pembelajaran lebih menyenagkan dan mudah dimengerti;
3) kualitas belajar siswa meningkat; 4) proses belajar dapat dilakukan dimana
saja; 5) mendukung pembelajaran mandiri; 6) membangkitkan motivasi, minat dan
keinginan belajar.
Dalam menentukan media pembelajar, guru pun harus
memiliki pemahaman penentuan kriteria pemilihan media pembelajaran. Hal ini
disebut oleh Hernawan (2007:39) setidaknya ada 3 hal yang perlu dijadikan
pertimbangan dalam pemilihan media pembelajaran yaitu: 1) tujuan pemilihan
media; 2) karakteristik media; 3) alternative media pembelajaran yang dipilih.
Langkah selanjutnya yaitu pelaksanaan. Dalam
pelaksanaan setidaknya ada beberapa variable yang berperan agar tujuan pembelajaran
dapat dicapai dengan optimal. Menurut Dunkin & Biddle dalam Sagala (2005)
menyatakan ada 4 variabel interakasi dalam proses pembelajaran yaitu: 1)
variable pertanda (presage Variable) berupa
pendidik; 2) Variabel Konteks (Contex Variable) berupa siswa, sekolah dan
masyarakat; 3) variable proses (Process Variable) yaitu interaksi antara siswa
dengan pendidik; 4) Variable Produk (Product Variable) perkembangan peserta
didik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Dasar teori dan praktis inilah yang menjadi pengalaman
penting penulis dalam melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh dari mulai
perencanaan berupa survey peserta didik dalam hal kesiapan sarana prasarana,
pelaksanaan berupa pemberian materi dan tugas melalui media google Class dan WashApp serta evaluasi dari
tugas yang dikerjakan siswa yang dikirim melalui media tersebut.
Garut, 3 Agustus 2020.dewawanda0@gmail.com

